Ketika ribuan peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama memadati Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–30 Agustus 2026, ada satu sudut yang nyaris selalu ramai: booth potong rambut pria 2026 gratis yang digelar oleh NU Care-LAZISNU. Di tengah suasana kongres organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, belasan barber sukarela memotong rambut peserta dari siang hingga malam — dan momen itu, tanpa disengaja, menjadi cermin dari luasnya dunia barbershop hari ini: bukan cuma soal estetika, tapi juga soal pelayanan dan komunitas.
Barber Sukarela di Muktamar: Niat Berkhidmah Lewat Gunting
Asrori, koordinator barbershop dari LAZISNU MWCNU Kras, Kediri, mengungkapkan motivasi timnya dengan sederhana. “Kami niatkan berkhidmah untuk NU, dalam berkhidmah dalam bidang kami barbershop,” katanya kepada NU Online. Lima tim barber bertugas pada hari pertama, 27 Agustus 2026, dengan jadwal operasional pukul 13.00 hingga 20.00 WIB. Hari-hari berikutnya giliran tim LAZISNU MWCNU dari cabang lain yang mengambil alih. “Dan cuma ada hari ini hingga besok malam. Kalau hari ke tiga nanti dari LAZISNU MWCNU yang lainnya jadi bergantian begitu,” tambahnya.
Antusiasme peserta pun terasa nyata. Ali Ahmad, peserta dari Cianjur, Jawa Barat, mengaku lega menemukan layanan potong rambut di tengah perjalanan panjangnya ke Jombang. Ia sudah tahu persis apa yang diinginkan: “minta belakang aja sama pinggirnya,” ujarnya. Sementara Arisky dari Surabaya, yang awalnya ragu karena baru pertama kali dipotong barber tak dikenal, akhirnya puas juga — “Lumayan sih, rating empat dari lima, keren,” katanya sambil tertawa.
Kisah ini menarik bukan karena skalanya besar, melainkan karena ia menunjukkan sesuatu yang sering terlupakan: barbershop adalah keterampilan sosial. Dan di tahun 2026, profesi ini sedang berada di titik yang sangat dinamis — baik dari sisi komunitas maupun dari sisi tren gaya yang terus berkembang. (Sumber: NU Online, Times Indonesia)
Tren Potong Rambut Pria 2026 yang Mendominasi Kursi Barber
Kalau kamu belum memutuskan model rambut untuk bulan-bulan ke depan, inilah daftar yang paling banyak diminta di barbershop saat ini. Tren tahun 2026 punya satu benang merah yang cukup jelas: tekstur alami mengalahkan kerapian sempurna. Rambut yang tampak “sengaja diacak-acak” justru lebih digemari daripada gaya yang terlalu licin dan kaku.
1. Textured Crop
Ini gaya yang paling versatile di 2026. Sisi dan belakang di-fade pendek, bagian atas dibiarkan lebih panjang dengan tekstur acak. Fringe ringan jatuh ke tengah dahi. Cocok untuk hampir semua bentuk wajah, dan bisa tampil casual maupun semi-formal tanpa banyak perubahan. Kalau kamu sedang mencari inspirasi gaya rambut cowok yang fleksibel untuk berbagai acara, textured crop adalah kandidat pertama yang layak dicoba. Maintenance-nya ringan: cukup potong setiap 2–3 minggu.
2. Low Taper Fade
Fade halus di sisi dan belakang, dengan bagian atas yang fleksibel — bisa di-styling jadi quiff, pompadour mini, atau sekadar messy look. Low taper fade adalah salah satu gaya yang paling sering dikombinasikan dengan Korean Haircut atau Two Block, dua model yang juga masuk daftar favorit pria Indonesia tahun ini. Keunggulannya: transisi dari kerja ke nongkrong bisa dilakukan hanya dengan mengubah cara menyisir.
3. Modern Mullet
Kembalinya mullet sudah diprediksi sejak beberapa tahun lalu, tapi versi 2026 jauh lebih bersih dari pendahulunya. Bagian depan dan sisi lebih pendek dengan fade, bagian belakang dibiarkan lebih panjang, dan keseluruhan potongan diberi layer untuk volume. Tidak se-ekstrem versi orisinalnya dari era 1980-an, tapi tetap punya karakter yang kuat dan mudah dikenali.
4. Korean Haircut dan Two Block
Popularitas konten Korea — dari K-pop hingga K-drama — ikut mendorong dua gaya ini masuk ke barbershop-barbershop Indonesia. Two Block punya sisi yang di-taper rapi dengan bagian atas lebih panjang, menghasilkan tampilan muda dan segar. Korean Haircut lebih luas cakupannya: bisa berupa comma hair, ivy league modern, atau gaya fringe lainnya yang terasa sleek tapi playful. Di kota-kota besar, barber yang mahir Two Block kini jadi nilai jual tersendiri.
5. Warrior Cut
Salah satu model paling dibicarakan tahun ini. Warrior Cut adalah tampilan yang tampak “baru bangun tidur tapi tetap keren” — sengaja berantakan, tapi dengan presisi tertentu dalam potongannya. Cocok untuk pria yang tidak mau repot styling setiap pagi tapi tetap ingin punya karakter visual yang kuat. Nama yang dramatis untuk gaya yang ironisnya sangat effortless.
6. Crew Cut dan Buzz Cut Modern
Dua gaya klasik yang tidak kemana-mana. Crew cut tetap relevan dengan sentuhan fade modern, sementara buzz cut 2026 hadir dalam versi yang sedikit lebih grown-out dengan tekstur di bagian atas. Keduanya adalah pilihan terbaik bagi yang menginginkan gaya rendah perawatan tanpa terlihat membosankan. (Sumber tren: Liputan6, Popbela)
Memilih Model yang Tepat: Lebih dari Sekadar Ikut Tren
Tidak semua tren cocok untuk semua orang — dan barber yang baik tahu itu. Textured crop bekerja sangat baik untuk wajah oval atau persegi, tapi bisa terasa kurang proporsional untuk wajah bulat yang butuh volume lebih di bagian atas. Modern mullet punya karakter kuat yang bisa mendominasi fitur wajah — bagus untuk yang ingin tampil beda, kurang ideal untuk lingkungan kerja yang sangat konservatif.
Barber berpengalaman biasanya menanyakan beberapa hal sebelum mulai: ke mana rambut ini akan dibawa, seberapa sering kamu bersedia ke barbershop, dan produk apa yang biasa kamu pakai. Itu bukan basa-basi — itu konsultasi singkat yang menentukan apakah hasilnya akan cocok dengan gaya hidupmu. Inilah nilai tambah nyata dari barbershop profesional dibanding menggunting sendiri hanya berbekal tutorial di internet.
Soal Biaya: Berapa Wajar untuk Potong Rambut di Indonesia?
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bali, biaya potong rambut pria di barbershop profesional berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 250.000 — tergantung lokasi, reputasi tempat, dan kompleksitas gaya yang diminta. Barbershop di mal premium bisa menembus Rp 300.000 ke atas, terutama bila mencakup layanan tambahan seperti hair treatment, creambath, atau beard trim.
Untuk perbandingan yang lebih lengkap sebelum memutuskan tempat, kamu bisa cek rincian biaya dan paket cukur rambut di berbagai salon ternama sebagai acuan. Membandingkan harga dan layanan adalah langkah yang masuk akal — terutama jika kamu mulai rutin ke barbershop dan ingin tahu standar yang wajar sebelum berlangganan.
Yang menarik dari kisah LAZISNU di Muktamar NU adalah pengingat bahwa potong rambut gratis sekalipun — bila dikerjakan barber terlatih dengan niat yang tulus — bisa menghasilkan kepuasan tinggi. Rating empat dari lima yang diberikan Arisky bukan angka buruk untuk layanan sukarela di lapangan terbuka.
Barbershop di Bali: Di Antara Tradisi dan Selera Modern
Di Bali, budaya grooming pria punya dimensinya sendiri. Pulau ini tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan budayanya — dari seni ukir hingga kuliner ikonik seperti babi guling yang sudah jadi simbol cita rasa Bali lintas generasi — tapi juga karena identitas estetikanya yang terus berkembang. Barbershop di Bali tumbuh di persimpangan antara wisatawan mancanegara yang membawa selera internasional dan pelanggan lokal yang punya standar tersendiri.
Selah Selah Barber adalah salah satu barbershop di Bali yang hadir di tengah dinamika itu — menawarkan layanan potong rambut profesional dengan pendekatan yang personal dan tidak terburu-buru. Di tengah banjirnya tren dari Korea hingga Eropa, barbershop lokal seperti ini berperan penting: membantu pria menemukan gaya yang paling sesuai dengan karakter dan rutinitas mereka, bukan sekadar yang paling viral di media sosial.
Barbershop Bukan Sekadar Tempat Potong Rambut
Ada sesuatu yang simbolis dari apa yang terjadi di Jombang pada Agustus 2026. Di satu sisi, ribuan orang mendapat potongan rambut gratis dari barber-barber sukarela yang membawa keterampilan mereka sebagai bentuk pengabdian. Di sisi lain, di kota-kota besar, orang rela mengantre dan merogoh kocek ratusan ribu rupiah demi textured crop atau warrior cut yang sempurna.
Kedua kenyataan itu bisa berdiri berdampingan. Barbershop bukan cuma soal bisnis atau tren — ini soal relasi antara barber dan klien, soal kepercayaan yang tumbuh dalam waktu tiga puluh menit di kursi. Dan di Indonesia tahun 2026, ruang itu sedang lebih hidup dari sebelumnya — baik di lapangan Muktamar, maupun di balik pintu kaca barbershop modern di gang-gang kota yang terus bermunculan.